Oleh : Sri Sukwantini, S.Pd (Guru SMA N 1 Pontianak)
Setiap penelitian yang sistematis selalu diawali dengan sesuatu persoalan. John Dewey menyebutkan bahwa langkah pertama dalam metode ilmiah adalah pengakuan adanya kesulitan, hambatan atau masalah yang membingungkan peneliti. Dimana pemilihan dan perumusan masalah adalah salah satu aspek yang paling penting dalam pelaksanaan penelitian dibidang apa saja. Para peneliti pemula sering terkejut melihat bahwa permulaan ini kerapkali menggunakan sebagian besar waktu yang mereka sediakan untuk proyek penelitian mereka. Oleh karena itu penelitian tidak dapat dilakukan sebelum suatu masalah diidentifikasi, dipikirkan secara tuntas, dan dirumuskan dengan baik.
Seorang peneliti mula-mula harus menentukan pokok persoalan penelitian yang bersifat umum. Pilihan seperti itu selalu bersifat sangat pribadi, tetapi hendaknya mengarah kepada suatu bidang yang sangat menarik atau yang benar-benar diketahui. Kalau tidak, mungkin akan sulit mengerahkan motivasi untuk melaksanakan penelitian itu sampai selesai. Pengetahuan, pengalaman dan lingkungan peneliti sendiri biasanya menentukan pilihan itu.
Sebagai misal seorang guru matematika SMA mungkin merasakan perlunya meneliti beberapa aspek pengajaran dalam matematika seperti pembelajaran matematika yang selalu gersang, kesulitan siswa dalam memecahkan persoalan geometri, kesulitan siswa dalam memahami funsi turunan dan integral, kesulitan memecahkan persoalan fungsi trigonometri, kesulitan memecahkan persoalan matematika dalam cerita atau wacana proyeksi kehidupan sehari-hari, dan banyak masalah pengajaran matematika lainnya. Namun demikian juga ada guru matematika yang tertarik untuk meneliti keefektifan program-program penggunaan media pembelajaran, metode, pendekatan, dan model dalam pembelajaran.
Dari masalah-masalah tersebut kemudian guru matematika memiilih pokok persoalan yang masih bersifat umum itu kemudian dipersempit sampai menjadi persoalan yang sangat khusus. Peneliti harus menentukan pertanyaan yang harus dijawab. Ia juga harus menyatakan dengan tepat apa yang akan dilakukan untuk memperoleh jawaban atas penelitian pendidikan tersebut.
Kebanyakan peneliti pemula menganggap bahawa mengungkap masalah dan merumuskannya dalam perumusan masalah sebagai hal yang sulit. Kesulitan itu menurut Madyo Ekosusilo(2005:3), bukanlah disebabkan oleh kurangnya persoalan yang dapat diteliti di bidang pendidikan. Bahkan sesungguhnya, ada begitu banyak pertanyaan yang memerlukan jawaban, sehingga para pemula biasanya menemui kesulitan untuk memilih salah satu diantaranya. Satu kesulitan yang lazim dihadapi ialah bahwa suatu persoalan harus dipilih, dan pertanyaannya harus dirumuskan pada kesempatan yang sangat dini, pada waktu pengertian peneliti pemula tentang bagaimana cara melakukan penelitian masih sangat terbatas. Di samping itu, ketidakpastian tentang sifat-sifat persoalan penelitian, pemisahan masalah, criteria tentang akseptabilitas (hal yang dapat diterimanya suatu masalah), serta bagaimana memecahkan masalah tersebut, siring tampak banyak sekali. Bahkan para peneliti yang telah berpengalaman pun biasanya merasa perlu mencoba beberapa kali sebelum sampai kepada suatu masalah penelitian yang memenuhi criteria yang telah diterima secara umum. Mungkin pemilihan atau perumusan pertama, setelah diperiksa lebih cermat , ternyata tidak dapat dilaksanakan atau kurang bernilai untuk diteliti. Keterampilan melakukan penelitian sebagian besar merupakan masalah melakukan pemilihan yang baik tentang pa yang harus diselidiiki. Untuk bisa berkembang, keterampilan tersebut memerlukan waktu dan usaha yang berulang-ulang, namun keterampilan itu dapat dikembangkan dengan baik oleh peneliti pemula yang berkemauan keras.
Meskipun tampaknya tidak mungkin, setelah suatu masalah dipilih dan pertanyaan dapat dirumuskan dengan jelas, maka selesailah salah satu tahapan yang paling sulit dalam proses penelitian.
A. Hakikat Masalah Penelitian
Persoalan-persoalan penelitian di bidang pendidikan menurut Madyo Ekosusilo(2005:5), adalah pertanyaan-pertanyaan tentang keadaan di lapangan. Meskipun ada berbagai jenis persoalan penelitian, kesemuannya menyangkut pertanyaan yang jawabannya sedang dicari di dalam penelitian. Sebagai contoh : Penelitian experimental dan ex post facto menyangkut pertanyaan tentang hubungan yang ada antara dua variable atau lebih. Suatu persoalan khas dalam penelitian experimental mempertanyakan tentang hubungan antara metode pengajaran dan penguasaan suatu kecakapan, misalnya hubungan antara penggunaan model problem solving terhadap penguasaan konsep fungsi trigonometri. Studi semacam ini dapat diperluas dengan memasukkan variable-variabel lain ke dalam pertanyaan tersebut.
B. Sumber Masalah Penelitian
Pertanyaan pertama yang diajukan oleh kebanyakan peneliti pemula menurut Satutik Rahayu(2007), adalah “ Bagaimana saya dapat menemukan suatu persoalan penelitian?” Padahal hal itu secara teori tidak ada kaidahnya yang pasti untuk menemukan suatu persoalan. Ada beberapa saran yang telah terbukti bermanfaat yang dapat menjadi sumber masalah dalam penelitian, yaitu :
1. Pengalaman,
2. Deduksi dari teori
3. Literature yang ada kaitannya,
4. Seminar, diskusi, dan pertemuan ilmiah
5. Peryataan pemegang otoritas
6. Perasaan Intuitif
1.1. Pengalaman
Salah satu diantara sumber-sumber yang paling berguna bagi para peneliti pemula adalah pengalaman mereka sendiri sebagai praktisi kependidikan. Banyak keputusan yang harus diambil setiap hari tentang kemungkinan pengaruh praktek-praktek kependidikan terhadap tingkah laku murid. Agar yang menjadi dasar keputusan-keputusan yang akan diteliti ini kuat, maka para guru seperti guru matematika harus melakukan pendataan pengalaman lapangan dengan kritis tentang validitas asumsi mereka mengenai hubungan antara pengalaman belajar dan perubahan yang terjadi dari hasil belajar siswa.
Dengan demikian pada akhirnya terdapat beberapa keputusan tentang metode pengajaran yang harus diambil. Metode pengajaran memang menjadi sesuatu yang sering digunakan penelitian ilmiah. Pendekatan ilmiah terhadap praktek kependidikan menetapkan bahwa keputusan tentang bagimana melakukan sesuatu di bidang pendidikan hendaknya didasarkan pada bukti-bukti empiris bukan pada firasat, kesan, perasaan atau dogma. Misalnya guru-guru matematika SMA mungkin mempertanyakan keefektifan metode pengajaran mereka. Mereka mungkin ingin menilai metode yang biasa mereka pakai atau salah satu dari beberapa metode yang telah terkenal, guna menetapkan pendekatan manakah yang paling efektif untuk dipakai.
Pengamatan tentang hubungan – hubungan tertentu yang belum terjawab secara memuaskan merupakan sumber lain bagi persoalan- persoalan penyelidikan. Seorang guru mungkin melihat meningkatnya tanda-tanda kegelisahan di kalangan murid-murid pada saat-saat tertentu seperti ketika mengkaji persoalan, memecahkan masalah, ataupun menyelesiakan suatu proyek tertentu matematika. Untuk menyelididki hal itu guru tersebut dapat menyusun berbagai penjelasan sementara mengenai sebab-sebab kegelisahan itu, kemudian mengujinya secara empiris. Penyelidikan ini mungkin tidak hanya memecahkan persoalan itu saja, melainkan juga memberikan sumbangan bagi pemahaman sebab-sebab kegelisahan dalam kelas.
Demikian pula, ada keputusan yang harus diambil mengenai praktek-praktek yang telah menjadi rutin di dalam kelas. Ada juga keputusan yang dalam beberapa hal didasarkan terutama pada tradisi atau otoritas yang kurang atau bahkan tidak didukung oleh penelitian ilmiah. Mengapa tidak mengevalusi beberapa praktek-praktek ini.
Pengalaman sehari-hari para pendidik dapat memberikan persoalan-persoalan yang berharga untuk diselidiki, dan bahkan sebagian besar gagasan penelitian yang dikembangkan oleh para pemula dibidang penelitian pendidikan cenderung berasal dari pengalaman-pengalaman pribadi mereka. Mereka mungkin mempunyai firasat tentang hubungan –hubungan baru atau tentang cara-cara lain untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dengan demikian, melalui semacam proses intuitif, mereka sampai pada gagasan yang dapat diteliti. Studi seperti ini kebanyakan akan merupakan jenis penelitian yang mengarah pada pemecahan persoalan yang dihadapi secara langsung. Meskipun begitu kadang-kadang persoalan semacam itu lebih cocok dan lebih berarti bagi peneliti pemula daripada persoalan yang diperoleh melalui proses deduksi logis dari suatu teori. Disamping itu studi semacam ini sering dapat dibenarkan berdasarkan sumbangannya kepada praktek-praktek pendidikan.
1.2. Deduksi dari Teori
Deduksi yang dapat ditarik dari berbagai teori pendidikan dan teori tingkah laku yang sudah dikenal oleh peneliti merupakan sumber permasalahan yang baik sekali. Teori menyangkut prinsip-prinsip umum, yang kelayakannya untuk diterapkan pada persoalan-persoalan pendidikan masih belum terbukti, sebelum prinsip tersebut dikukuhkan secara empiris. Hanya melalui penelitianlah orang dapat menentukan apakah generalisasi-generalisasi yang terdapat di dalam teori dapat diterjemahkan menjadi saran-saran khusus bagi praktek pendidikan.
Dari suatu teori, peneliti dapat membuat hipotesis yang menyatakan hasil penelitian yang diharapkan dalam situasi praktis tertentu. Artinya peneliti menyatakan “ hubungan antar variable yang bagaimana yang akan diamati jika teori tersebut benar-benar merangkum keadaan itu ?” Kemudian ia melakukan penyelidikan sistematis guna memastikan apakah data empiris mendukung hipotesis itu, yang sekaligus juga mendukung teorinya.
Ada beberapa teori belajar, teori kepribadian, teori sosiologi yang validitas, ruang lingkup, kepraktisannya mungkin bermanfaat kalau diuji dalam situasi pendidikan. Teori reinforcement mungkin menjadi titik mula yang sangat berguna bagi penelitian dalam kelas. Pertimbangkanlah implikasi teori tersebut bagi tes di dalam kelas, yang dapat ditarik dari satu postulat saja dalam teori itu, yaitu bahwa penguatan (reinforcement) terhadap respon tersebut. Sudah barang tentu kita tahu bahwa teori ini sudah menimbulkan banyak penelitian. Namun, masih banyak deduksi yang dapat ditarik dan diuji dalam situasi-situasi di dalam kelas. Dari studi-studi eksperimental di dalam laboratorium yang menggunakan binatang, kita tahu bahwa setiap penguatan yang tidak dinyatakan akan menyebabkan kemungkinan timbulnya reaksi tersebut menurun, dan akhirnya menghilang.
1.3. Literatur yang Berkaitan
Sumber permasalahan lain yang berharga ialah literature dalam bidang yang menarik perhatian peneliti. Pada waktu membaca laporan-laporan penelitian yang sudah dilakukan, kita dihadapkan pada contoh-contoh permasalahan penelitian serta bagaimana penelitian tersebut dilakukan. Juga, para penulis sering menutup studi mereka dengan saran-saran tentang penelitian selanjutnya yang diperlukan guna meneruskan pekerjaan yang sudah dilaporkan. Ada gunanya kita melihat kalau-kalau prosedur yang dipakai dalam penelitian terdahulu itu dapat disesuaikan guna memecahkan persoalan-persoalan lain. Atau apakah studi yang serupa juga dapat dilakukan di lapangan, bidang persoalan, atau dengan kelompok subyek yang berbeda.
Salah satu cirri penting penelitian ilmiah ialah bahwa [enelitian tersebut harus dapat ditiru atau diulang (replicable) sehingga hasil-hasilnya dapat dibuktikan. Replikasi suatu studi dengan atau tanpa variasi mungkin dapat menjadi kegiatan yang berfaedah dan berharga bagi peneliti pemula. Pengulangan suatu studi dapat meningkatkan luasnya jangkauan generalisasi hasil penelitian sebelumnya serta memberikan bukti tambahan tentang validitas hasil tersebut. Dalam banyak eksperimen pendidikan, kita tidak dapat memilih subyek secara acak, melainkan harus menggunakan kelompok-kelompok kelas sebagaimana adanya. Sudah barang tentu hal ini akan mambatasi jangkauan generalisasi hasil-hasil penelitian tersebut. Akan tetapi dengan diulanginya eksperimen – eksperimen pada waktu dan tempat yang berlainan, dengan hasil yang menguatkan hubungan-hubungan yang diharapkan validitas ilmiah hasil-hasil tersebut pun akan mengikat. Pengulangan belaka atas studi – studi lain bukanlah merupakan penelitian yang paling menarik. Akan tetapi, untuk masalah-masalah pendidikan, sering teras perlunya penegasan dan perluasan hasil-hasil penyelidikan.
Sering orang menyadari akan adanya kesenjangan (gap) yang nyata dalam pengetahuan di suatu bidang. Untuk itu penelitian dapat direncanakan guna mengisi kesenjangan itu dan menghasilkan pengetahuan yang lebih dapat diandalkan.
1.4. Diskusi, Seminar dan Pertemuan Ilmiah
Diskusi, seminar dan lain-lain pertemuan ilmiah juga merupakan sumber masalah penelitian yang cukup kaya, karena pada umumnya dalam pertemuan ilmiah demikian itu para peserta melihat hal-hal yang dipersoalkan secara professional. Dengan kemampuan profesionalnya para ilmuwan peserta ilmiah melihat, menganalisis, menyimpulkan dan mempersoalkan hal-hal yang dijadikan pokok pembicaraan. Dengan demikian mudah sekali muncul masalah-masalah yang memerlukan penggarapan melalui penelitian.
1.5. Pernyataan Pemegang Otoritas
Pernyataan pemegang otoritas, baik pemegang otoritas dalam pemerintahan maupun pemegang otoritas dalam bidang ilmu tertentu, dapat menjadi sumber masalah penelitian. Demikianlah misalnya pernyataan seorang menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai rendahnya daya serap murid-murid SMA
1.6. Perasaan Intuitif
Tidak jarang terjadi, masalah penelitian itu muncul dalam pikiran ilmuwan pada pagi hari setelah bangun tidur, atau pada saat-saat habis istirahat.Rupanya selama tidur atau istirahat itu terjadi semacam konsolidasi atau pengendapan berbagai informasi yang akan diteliti itu, yang lalu muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan.
Masalah atau permasalahan ada jika ada kesenjangan (gap) antara das sollen dan das sein ; ada perbedaan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, antara apa yang diperlukan dan apa yang tersedia, antara harapan dan kenyataan dan yang sejenis dengan itu. Banyak sekali, kesenjangan itu mengenai pengetahuan dan teknologi, informasi yang tersedia tidak cukup, teknologi yang ada tidak memenuhi kebutuhan dan sebaginya.Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah itu, atau dengan kata lain dapat menutup atau setidak-tidaknya memperkecil kesenjangan itu.
C. Latar Belakang Masalah
Pembahasan dalam latar belakang masalah ini bermaksud menjelaskan mengapa masalah yang diteliti itu timbul dan penting diteliti dari segi profesi peneliti sebagai guru, pengembangan ilmu dan kepentingan pembangunan. Yang perlu disajikan dalam latar belakang masalah adalah apa yang membuat peneliti merasa gelisah dan resah sekiranya masalah tersebut tidak diteliti. Dalam latar belakang masalah sebaiknya diuangkapkan gejala-gejala kesenjangan yang terdapat dilapangan sebagai dasar pemikiran untuk memunculkan permasalahan. Ada baiknya kalau diutarakan akibat-akibat apa yang bakal diderasa apabila masalah tersebut dibiarkan tidak diteliti dan keuntungan–keuntungan apa yang kiranya bakal diperoleh , apabila masalah tersebut diteliti. Perlu pula diuraikan secara jelas tentang kedudukan masalah yang hendak diteliti itu dalam wilayah bidang studi yang ditekuni oleh peneliti yang bersangkutan.
Untuk mampu merumuskan latar belakang masalah secara runtut, jelas dan tajam, maka peneliti harus mengkaitkan terhadap kajian teori yang luas dan terpadu mengenai teori-teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang terkait, dan merupakan syarat mutlak yang harus tergambarkan di latar belakang. Ini merupakan alasan lain mengapa penelahaan terhadap jurnal-jurnal hasil penelitian terdahulu yang terkait harus sejak awal dilakukan.
Di fihak lain latar belakang masalah dalam penelitian juga disajikan mengenai keadaan atau fakta aktual yang menarik perhatian penulis untuk diteliti sehingga dari uraian fakta-fakta actual yang terjadi bisa dilihat permasalahanya secara jelas. Dalam menyajikan data dalam bentuk table, angka persentase atau dalam bentuk narasi biasa. Fakta-fakta yang ditampilkan (dalam bentuk table atau angka persentase) sebaiknya mewakili komunitas atau kelompok populasi yang hendak diteliti untuk lebih menjelaskan permasalahan.
Jadi dalam latar belakang masalah ini, peneliti harus melakukan analisis masalah, sehingga permasalahan menjadi jelas. Melalui analisa masalah tersebut peneliti harus dapat menunjukkan dan membuktikan adanya suatu penyimpangan dan menuliskan mengapa masalah tersebut perlu diteliti.
D. Identifikasi Masalah
Masalah yang harus dipecahkan atau dijawab melalui penelitian selalu ada tersedia dan cukup banyak, tergantung peneliti dalam mengidentifikasikannya, memilihnya dan merumuskannya. Walaupun demikian agar seseorang ilmuwan mempunyai mata yang cukup jeli untuk menemukan masalah tersebut, dia harus cukup berlatih.
Identifikasi masalah pada umumnya mendeteksi, melacak, menjelaskan aspek permasalahan yang muncul dan berkaitan dari judul penelitian atau dengan masalah atau dengan variable yang akan diteliti. Hasil identifikasi masalah dapat diangkat sejumlah masalah yang saling keterkaitan satu dengan yang lainnya.
Apabila dalam latar belakang masalah penjelasannya sudah dikemukakan dengan lengkap dan jelas, maka akan memudahkan dalam proses identifikasi masalah. Identifikasi masalah merupakan proses merumuskan permasalahan-permasalahan yang akan diteliti. Untuk memudahkan dalam proses selanjutnya dan memudahkan pembaca memahami hasil penelitian, permasalahan yang muncul dirumuskan dalam bentuk pertanyaan tanpa tanda tanya.
Selanjutnya dalam bagian ini perlu dituliskan berbagai masalah yang ada pada objek yang diteliti. Semua masalah dalam objek baik yang akan diteliti maupun yang tidak akan diteliti sedapat mungkin dikemukakan. Untuk dapat mengidentifikasi masalah dengan baik maka peneliti perlu melakukan studi pendahuluan ke objek yang diteliti, melakukan observasi, dan wawancara ke berbagai sumber sehingga semua permasalahan dapat diungkapkan. Dari berbagai permasalahan yang telah diketahui tersebut, selanjutnya dikemukakan hubungan satu masalah dengan masalah lain. Masalah yang akan diteliti itu kedudukannya di mana di antara masalah yang akan diteliti. Masalah apa saja yang diduga berpengaruh positif dan negative terhadap masalah yang diteliti. Masalah tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk variable.
Dengan demikian dalam identifikasi masalah harus menggambarkan permasalahan yang ada dalam topik atau judul penelitian. Seluruh variable yang dilibatkan dalam penelitian harus dapat tergambar dengan jelas dalam identifikasi masalah. Identifikasi masalah yang akan diajukan tidak harus dibatasioleh ketentuan jumlah variable yang dilibatkan dalam penelitian maksudnya jika variable yang dilibatkan dalam penelitian adalah variable bebas da satu variable terikat, maka jumlah pernyataan masalahnya harus ada tiga. Pernyataan permasalahan bisa juga hanya satu, tetapi memuat seluruh permasalahan yang diteliti. Identifikasi masalah juga dapat menunjukan alat analisis apa yang akan dipakai serta kedalaman dan keluasan penelitian.
E. Pemilihan Masalah/ Batasan Masalah
Setelah masalah diidentifikasi, belum merupakan jaminan bahwa masalah tersebut layak dan sesuai untuk diteliti. Biasanya dalam usaha mengidentifikasi masalah atau menemukan masalah penelitian diketemukan lebih dari satu masalah . Dari masalah-masalah tersebut perlu dipilih salah satu, yang mana yang paling layak dan sesuai untuk diteliti. Jika yang diketemukan sekiranya hanya satu masalah, masalah tersebut juga harus dipertimbangkan layak dan tidaknya untuk diteliti. Pertimbangan untuk memilih atau menentukan apakah sesuatu masalah layak dan sesuai untuk diteliti, pada dasarnya dilakukan dari 2 arah yaitu :
1. Dari arah masalahnya
Untuk menentukan apakah sesuatu masalah layak untuk diteliti perlu dibuat pertimbangan-pertimbangan dari arah masalahnya atau dari sudut obyektif. Dari sudut obyektif ini, pertimbangan akar; dibuat atas dasar sejauh mana penelitian mengenai masalah yang bersangkutan itu akan memberi sumbangan kepada :
b. Pengembangan teori dalam bidang yang bersangkutan dengan dasar teoritis penelitiannya.
c. Pemecahan masalah-masalah praktis
Kiranya jelas bahwa kelayakan suatu masalah untuk diteliti itu sifatnya relative, tergantung kepada konteksnya. Sesuatu masalah yang layak untuk diteliti dalam sesuatu konteks tertentu, mungkin kurang layak kalau ditempatkan dalam konteks yang lain. Tidak ada kriteria untuk ini dan keputusan akan tergantung kepada ketajaman calon peneliti untuk melakukan evaluasi secara kritis, menyeluruh dan menjangkau ke depan.
Disamping hal-hal tersebut di atas perlu ditambahkan bahwa dari masalah itu hendaklah mungkin dilakukan pengumpulan data guna memecahkan masalah itu atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung di dalamnya. Kecuali itu masalah yang akan diteliti itu seyogyanya bukan merupakan pendirian mengenai etika dan moral.
2. Dari arah si calon peneliti
Dari segi subyektif, yaitu pertimbangan dari arah calon peneliti, perlu dipertimbangkan apakah masalah itu sesuai dengan calon peneliti. Sesuai atau tidaknya sesuatu masalah itu untuk diteliti terutama bergantung kepada apakah masalah tersebut manageable atau tidak oleh si calon peneliti.
Managability itu terutama dilihat dari lima segi yaitu :
biaya yang tersedia
waktu yang dapat digunakan
alat-alat dan perlengkapan yang tersedia
bekal kemampuan teoritis
penguasaan metode yang diperlukan
Setiap peneliti perlu menanyakan kepada diri sendiri apakah masalah yang akan diteliti itu sesuai dengan baginya dilihat dari kelima hal tersebut di atas. Jika tidak sebaiknya dipilih masalah lain, atau masalah itu dimodifikasi sehingga menjadi sesuai bagi dirinya.
F. Perumusan Masalah
Merumuskan masalah merupakan pekerjaan yang sulit bagi setiap peneliti. Hal ini dapat menolong mahasiswa keluar dari kesulitan merumuskan judul dari masalah adanya pengetahuan yang luas dan terpadu mengenai teori-teori dan hasil-hasil penelitian para ahli terdahulu dalam bidang-bidang yang terkait dengan masalah yang akan diteliti. Dalam rumusan dan analisis masalah sekaligus juga diidentifikasi variable-variabel yang dalam penelitian beserta definisi operasionalnya.
Bagaimanakah rumusan masalah yang baik ?
Pertama, perlu diingat bahwa masalah adalah titik tolak penelitian . Karena itu wajarlah bila kita merumuskannya dengan baik terlebih dahulu. Kedua, sebelum kita merumuskan masalah, terlebih dahulu kita harus menguraikan latar belakangnya. Tujuannya adalah agar masalah yang kita ketengahkan itu jelas. Masalah dikatakan baik jika :
(1). Dapat diteliti
Artinya masalah itu dapat dipecahkan melalui pengumpulan data dan pengolahan datanya.
(2).Kontribusinya terhadap penelitian ada
Yaitu yang ditemukan harus ada dan baru
(3). Pemecahannya baik bagi kita (peneliti)
Artinya sesuai dengan kemampuan meneliti kita, sumbernya ada dan sesuai dengan keterbatasan (limitasi) dalam waktu, biaya, daerah penelitian, generalisasi dll.
Tidak ada aturan umum mengenai cara merumuskan masalah itu , namun dapat disarankan hal-hal berikut ini :
(a) masalah hendaknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
(b) Rumusan itu hendaknya padat dan jelas
(c) Rumusan itu hendaknya memberi petunjuk tentang mungkinya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan ini.
Definisi operasional yang dirumuskan untuk setiap variable harus sampai melahirkan indicator-indikator dari setiap variable yang diteliti yang kemudian akan dijabarkan dalam instrument penelitian. Jadi setelah masalah yang akan diteliti itu ditentukan, misalnya variable apa saja yang akan diteliti, bagaimana hubungan antar variable dan agar masalah itu dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti itu perlu dirumuskan secara spesifik.
Berdasarkan uraian di atas, maka contoh rumusan masalah penelitian diuraikan sebagai berikut :
a. Permasalahan yang bersifat deskriptif yaitu permasalahan yang tidak membandingkan dan tidak menhubungkan dengan variable saja.
Contoh :
1) Seberapa tinggi motivasi kerja guru dan staf tata usaha di SMA Negeri 1 Pontianak ?
2) Bagaimana kualitas guru–guru mata pelajaran yang di ujikan nasional di SMA Negeri 1 Pontianak?
3) Bagaimana kualitas guru–guru mata pelajaran yang tidak di ujikan nasional di SMA Negeri 1 Pontianak?
b. Permasalahan bersifat asosiatif adalah permasalahan yang menghubungkan atau pengaruh antara dua variable atau lebih. Adapun menurut sifat hubungan terdiri dari tiga jenis yaitu :
1) Hubungan simetris
Ialah hubungan yang bersifat kebersamaan antara dua variable atau lebih.
Contoh :
Sejauh mana hubungan antara keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan OSIS dengan tingginya prestasi belajar ?
2) Hubungan sebab akibat (kausal)
Ialah hubungan yang bersifat mempengaruhi antara dua variable atu lebih
Contoh :
Seberapa besar hubungan keterampilan dan pengetahuan siswa terhadap hasil belajarnya di SMA Negeri 1 Pontianak ?
3) Hubungan interaktif
Ialah hubungan antara dua variable atau lebih yang bersifat saling mempengaruhi.
Contoh:
Sejauh mana hubungan antara sikap guru dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Pontianak ?
c. Permasalahan bersifat Komparatif adalah permasalahan yang menggambarkan perbedaan karakteristik dari dua variabel atau lebih
Contoh :
Bagaimana kinerja guru SMA Negeri 1 Pontianak dibandingkan dengan kinerja guru SMA N 3 Pontianak ?
G. Tujuan Penelitian
Setiap penelitian yang sistematis selalu diawali dengan sesuatu persoalan. John Dewey menyebutkan bahwa langkah pertama dalam metode ilmiah adalah pengakuan adanya kesulitan, hambatan atau masalah yang membingungkan peneliti. Dimana pemilihan dan perumusan masalah adalah salah satu aspek yang paling penting dalam pelaksanaan penelitian dibidang apa saja. Para peneliti pemula sering terkejut melihat bahwa permulaan ini kerapkali menggunakan sebagian besar waktu yang mereka sediakan untuk proyek penelitian mereka. Oleh karena itu penelitian tidak dapat dilakukan sebelum suatu masalah diidentifikasi, dipikirkan secara tuntas, dan dirumuskan dengan baik.
Seorang peneliti mula-mula harus menentukan pokok persoalan penelitian yang bersifat umum. Pilihan seperti itu selalu bersifat sangat pribadi, tetapi hendaknya mengarah kepada suatu bidang yang sangat menarik atau yang benar-benar diketahui. Kalau tidak, mungkin akan sulit mengerahkan motivasi untuk melaksanakan penelitian itu sampai selesai. Pengetahuan, pengalaman dan lingkungan peneliti sendiri biasanya menentukan pilihan itu.
Sebagai misal seorang guru matematika SMA mungkin merasakan perlunya meneliti beberapa aspek pengajaran dalam matematika seperti pembelajaran matematika yang selalu gersang, kesulitan siswa dalam memecahkan persoalan geometri, kesulitan siswa dalam memahami funsi turunan dan integral, kesulitan memecahkan persoalan fungsi trigonometri, kesulitan memecahkan persoalan matematika dalam cerita atau wacana proyeksi kehidupan sehari-hari, dan banyak masalah pengajaran matematika lainnya. Namun demikian juga ada guru matematika yang tertarik untuk meneliti keefektifan program-program penggunaan media pembelajaran, metode, pendekatan, dan model dalam pembelajaran.
Dari masalah-masalah tersebut kemudian guru matematika memiilih pokok persoalan yang masih bersifat umum itu kemudian dipersempit sampai menjadi persoalan yang sangat khusus. Peneliti harus menentukan pertanyaan yang harus dijawab. Ia juga harus menyatakan dengan tepat apa yang akan dilakukan untuk memperoleh jawaban atas penelitian pendidikan tersebut.
Kebanyakan peneliti pemula menganggap bahawa mengungkap masalah dan merumuskannya dalam perumusan masalah sebagai hal yang sulit. Kesulitan itu menurut Madyo Ekosusilo(2005:3), bukanlah disebabkan oleh kurangnya persoalan yang dapat diteliti di bidang pendidikan. Bahkan sesungguhnya, ada begitu banyak pertanyaan yang memerlukan jawaban, sehingga para pemula biasanya menemui kesulitan untuk memilih salah satu diantaranya. Satu kesulitan yang lazim dihadapi ialah bahwa suatu persoalan harus dipilih, dan pertanyaannya harus dirumuskan pada kesempatan yang sangat dini, pada waktu pengertian peneliti pemula tentang bagaimana cara melakukan penelitian masih sangat terbatas. Di samping itu, ketidakpastian tentang sifat-sifat persoalan penelitian, pemisahan masalah, criteria tentang akseptabilitas (hal yang dapat diterimanya suatu masalah), serta bagaimana memecahkan masalah tersebut, siring tampak banyak sekali. Bahkan para peneliti yang telah berpengalaman pun biasanya merasa perlu mencoba beberapa kali sebelum sampai kepada suatu masalah penelitian yang memenuhi criteria yang telah diterima secara umum. Mungkin pemilihan atau perumusan pertama, setelah diperiksa lebih cermat , ternyata tidak dapat dilaksanakan atau kurang bernilai untuk diteliti. Keterampilan melakukan penelitian sebagian besar merupakan masalah melakukan pemilihan yang baik tentang pa yang harus diselidiiki. Untuk bisa berkembang, keterampilan tersebut memerlukan waktu dan usaha yang berulang-ulang, namun keterampilan itu dapat dikembangkan dengan baik oleh peneliti pemula yang berkemauan keras.
Meskipun tampaknya tidak mungkin, setelah suatu masalah dipilih dan pertanyaan dapat dirumuskan dengan jelas, maka selesailah salah satu tahapan yang paling sulit dalam proses penelitian.
A. Hakikat Masalah Penelitian
Persoalan-persoalan penelitian di bidang pendidikan menurut Madyo Ekosusilo(2005:5), adalah pertanyaan-pertanyaan tentang keadaan di lapangan. Meskipun ada berbagai jenis persoalan penelitian, kesemuannya menyangkut pertanyaan yang jawabannya sedang dicari di dalam penelitian. Sebagai contoh : Penelitian experimental dan ex post facto menyangkut pertanyaan tentang hubungan yang ada antara dua variable atau lebih. Suatu persoalan khas dalam penelitian experimental mempertanyakan tentang hubungan antara metode pengajaran dan penguasaan suatu kecakapan, misalnya hubungan antara penggunaan model problem solving terhadap penguasaan konsep fungsi trigonometri. Studi semacam ini dapat diperluas dengan memasukkan variable-variabel lain ke dalam pertanyaan tersebut.
B. Sumber Masalah Penelitian
Pertanyaan pertama yang diajukan oleh kebanyakan peneliti pemula menurut Satutik Rahayu(2007), adalah “ Bagaimana saya dapat menemukan suatu persoalan penelitian?” Padahal hal itu secara teori tidak ada kaidahnya yang pasti untuk menemukan suatu persoalan. Ada beberapa saran yang telah terbukti bermanfaat yang dapat menjadi sumber masalah dalam penelitian, yaitu :
1. Pengalaman,
2. Deduksi dari teori
3. Literature yang ada kaitannya,
4. Seminar, diskusi, dan pertemuan ilmiah
5. Peryataan pemegang otoritas
6. Perasaan Intuitif
1.1. Pengalaman
Salah satu diantara sumber-sumber yang paling berguna bagi para peneliti pemula adalah pengalaman mereka sendiri sebagai praktisi kependidikan. Banyak keputusan yang harus diambil setiap hari tentang kemungkinan pengaruh praktek-praktek kependidikan terhadap tingkah laku murid. Agar yang menjadi dasar keputusan-keputusan yang akan diteliti ini kuat, maka para guru seperti guru matematika harus melakukan pendataan pengalaman lapangan dengan kritis tentang validitas asumsi mereka mengenai hubungan antara pengalaman belajar dan perubahan yang terjadi dari hasil belajar siswa.
Dengan demikian pada akhirnya terdapat beberapa keputusan tentang metode pengajaran yang harus diambil. Metode pengajaran memang menjadi sesuatu yang sering digunakan penelitian ilmiah. Pendekatan ilmiah terhadap praktek kependidikan menetapkan bahwa keputusan tentang bagimana melakukan sesuatu di bidang pendidikan hendaknya didasarkan pada bukti-bukti empiris bukan pada firasat, kesan, perasaan atau dogma. Misalnya guru-guru matematika SMA mungkin mempertanyakan keefektifan metode pengajaran mereka. Mereka mungkin ingin menilai metode yang biasa mereka pakai atau salah satu dari beberapa metode yang telah terkenal, guna menetapkan pendekatan manakah yang paling efektif untuk dipakai.
Pengamatan tentang hubungan – hubungan tertentu yang belum terjawab secara memuaskan merupakan sumber lain bagi persoalan- persoalan penyelidikan. Seorang guru mungkin melihat meningkatnya tanda-tanda kegelisahan di kalangan murid-murid pada saat-saat tertentu seperti ketika mengkaji persoalan, memecahkan masalah, ataupun menyelesiakan suatu proyek tertentu matematika. Untuk menyelididki hal itu guru tersebut dapat menyusun berbagai penjelasan sementara mengenai sebab-sebab kegelisahan itu, kemudian mengujinya secara empiris. Penyelidikan ini mungkin tidak hanya memecahkan persoalan itu saja, melainkan juga memberikan sumbangan bagi pemahaman sebab-sebab kegelisahan dalam kelas.
Demikian pula, ada keputusan yang harus diambil mengenai praktek-praktek yang telah menjadi rutin di dalam kelas. Ada juga keputusan yang dalam beberapa hal didasarkan terutama pada tradisi atau otoritas yang kurang atau bahkan tidak didukung oleh penelitian ilmiah. Mengapa tidak mengevalusi beberapa praktek-praktek ini.
Pengalaman sehari-hari para pendidik dapat memberikan persoalan-persoalan yang berharga untuk diselidiki, dan bahkan sebagian besar gagasan penelitian yang dikembangkan oleh para pemula dibidang penelitian pendidikan cenderung berasal dari pengalaman-pengalaman pribadi mereka. Mereka mungkin mempunyai firasat tentang hubungan –hubungan baru atau tentang cara-cara lain untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dengan demikian, melalui semacam proses intuitif, mereka sampai pada gagasan yang dapat diteliti. Studi seperti ini kebanyakan akan merupakan jenis penelitian yang mengarah pada pemecahan persoalan yang dihadapi secara langsung. Meskipun begitu kadang-kadang persoalan semacam itu lebih cocok dan lebih berarti bagi peneliti pemula daripada persoalan yang diperoleh melalui proses deduksi logis dari suatu teori. Disamping itu studi semacam ini sering dapat dibenarkan berdasarkan sumbangannya kepada praktek-praktek pendidikan.
1.2. Deduksi dari Teori
Deduksi yang dapat ditarik dari berbagai teori pendidikan dan teori tingkah laku yang sudah dikenal oleh peneliti merupakan sumber permasalahan yang baik sekali. Teori menyangkut prinsip-prinsip umum, yang kelayakannya untuk diterapkan pada persoalan-persoalan pendidikan masih belum terbukti, sebelum prinsip tersebut dikukuhkan secara empiris. Hanya melalui penelitianlah orang dapat menentukan apakah generalisasi-generalisasi yang terdapat di dalam teori dapat diterjemahkan menjadi saran-saran khusus bagi praktek pendidikan.
Dari suatu teori, peneliti dapat membuat hipotesis yang menyatakan hasil penelitian yang diharapkan dalam situasi praktis tertentu. Artinya peneliti menyatakan “ hubungan antar variable yang bagaimana yang akan diamati jika teori tersebut benar-benar merangkum keadaan itu ?” Kemudian ia melakukan penyelidikan sistematis guna memastikan apakah data empiris mendukung hipotesis itu, yang sekaligus juga mendukung teorinya.
Ada beberapa teori belajar, teori kepribadian, teori sosiologi yang validitas, ruang lingkup, kepraktisannya mungkin bermanfaat kalau diuji dalam situasi pendidikan. Teori reinforcement mungkin menjadi titik mula yang sangat berguna bagi penelitian dalam kelas. Pertimbangkanlah implikasi teori tersebut bagi tes di dalam kelas, yang dapat ditarik dari satu postulat saja dalam teori itu, yaitu bahwa penguatan (reinforcement) terhadap respon tersebut. Sudah barang tentu kita tahu bahwa teori ini sudah menimbulkan banyak penelitian. Namun, masih banyak deduksi yang dapat ditarik dan diuji dalam situasi-situasi di dalam kelas. Dari studi-studi eksperimental di dalam laboratorium yang menggunakan binatang, kita tahu bahwa setiap penguatan yang tidak dinyatakan akan menyebabkan kemungkinan timbulnya reaksi tersebut menurun, dan akhirnya menghilang.
1.3. Literatur yang Berkaitan
Sumber permasalahan lain yang berharga ialah literature dalam bidang yang menarik perhatian peneliti. Pada waktu membaca laporan-laporan penelitian yang sudah dilakukan, kita dihadapkan pada contoh-contoh permasalahan penelitian serta bagaimana penelitian tersebut dilakukan. Juga, para penulis sering menutup studi mereka dengan saran-saran tentang penelitian selanjutnya yang diperlukan guna meneruskan pekerjaan yang sudah dilaporkan. Ada gunanya kita melihat kalau-kalau prosedur yang dipakai dalam penelitian terdahulu itu dapat disesuaikan guna memecahkan persoalan-persoalan lain. Atau apakah studi yang serupa juga dapat dilakukan di lapangan, bidang persoalan, atau dengan kelompok subyek yang berbeda.
Salah satu cirri penting penelitian ilmiah ialah bahwa [enelitian tersebut harus dapat ditiru atau diulang (replicable) sehingga hasil-hasilnya dapat dibuktikan. Replikasi suatu studi dengan atau tanpa variasi mungkin dapat menjadi kegiatan yang berfaedah dan berharga bagi peneliti pemula. Pengulangan suatu studi dapat meningkatkan luasnya jangkauan generalisasi hasil penelitian sebelumnya serta memberikan bukti tambahan tentang validitas hasil tersebut. Dalam banyak eksperimen pendidikan, kita tidak dapat memilih subyek secara acak, melainkan harus menggunakan kelompok-kelompok kelas sebagaimana adanya. Sudah barang tentu hal ini akan mambatasi jangkauan generalisasi hasil-hasil penelitian tersebut. Akan tetapi dengan diulanginya eksperimen – eksperimen pada waktu dan tempat yang berlainan, dengan hasil yang menguatkan hubungan-hubungan yang diharapkan validitas ilmiah hasil-hasil tersebut pun akan mengikat. Pengulangan belaka atas studi – studi lain bukanlah merupakan penelitian yang paling menarik. Akan tetapi, untuk masalah-masalah pendidikan, sering teras perlunya penegasan dan perluasan hasil-hasil penyelidikan.
Sering orang menyadari akan adanya kesenjangan (gap) yang nyata dalam pengetahuan di suatu bidang. Untuk itu penelitian dapat direncanakan guna mengisi kesenjangan itu dan menghasilkan pengetahuan yang lebih dapat diandalkan.
1.4. Diskusi, Seminar dan Pertemuan Ilmiah
Diskusi, seminar dan lain-lain pertemuan ilmiah juga merupakan sumber masalah penelitian yang cukup kaya, karena pada umumnya dalam pertemuan ilmiah demikian itu para peserta melihat hal-hal yang dipersoalkan secara professional. Dengan kemampuan profesionalnya para ilmuwan peserta ilmiah melihat, menganalisis, menyimpulkan dan mempersoalkan hal-hal yang dijadikan pokok pembicaraan. Dengan demikian mudah sekali muncul masalah-masalah yang memerlukan penggarapan melalui penelitian.
1.5. Pernyataan Pemegang Otoritas
Pernyataan pemegang otoritas, baik pemegang otoritas dalam pemerintahan maupun pemegang otoritas dalam bidang ilmu tertentu, dapat menjadi sumber masalah penelitian. Demikianlah misalnya pernyataan seorang menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai rendahnya daya serap murid-murid SMA
1.6. Perasaan Intuitif
Tidak jarang terjadi, masalah penelitian itu muncul dalam pikiran ilmuwan pada pagi hari setelah bangun tidur, atau pada saat-saat habis istirahat.Rupanya selama tidur atau istirahat itu terjadi semacam konsolidasi atau pengendapan berbagai informasi yang akan diteliti itu, yang lalu muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan.
Masalah atau permasalahan ada jika ada kesenjangan (gap) antara das sollen dan das sein ; ada perbedaan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, antara apa yang diperlukan dan apa yang tersedia, antara harapan dan kenyataan dan yang sejenis dengan itu. Banyak sekali, kesenjangan itu mengenai pengetahuan dan teknologi, informasi yang tersedia tidak cukup, teknologi yang ada tidak memenuhi kebutuhan dan sebaginya.Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah itu, atau dengan kata lain dapat menutup atau setidak-tidaknya memperkecil kesenjangan itu.
C. Latar Belakang Masalah
Pembahasan dalam latar belakang masalah ini bermaksud menjelaskan mengapa masalah yang diteliti itu timbul dan penting diteliti dari segi profesi peneliti sebagai guru, pengembangan ilmu dan kepentingan pembangunan. Yang perlu disajikan dalam latar belakang masalah adalah apa yang membuat peneliti merasa gelisah dan resah sekiranya masalah tersebut tidak diteliti. Dalam latar belakang masalah sebaiknya diuangkapkan gejala-gejala kesenjangan yang terdapat dilapangan sebagai dasar pemikiran untuk memunculkan permasalahan. Ada baiknya kalau diutarakan akibat-akibat apa yang bakal diderasa apabila masalah tersebut dibiarkan tidak diteliti dan keuntungan–keuntungan apa yang kiranya bakal diperoleh , apabila masalah tersebut diteliti. Perlu pula diuraikan secara jelas tentang kedudukan masalah yang hendak diteliti itu dalam wilayah bidang studi yang ditekuni oleh peneliti yang bersangkutan.
Untuk mampu merumuskan latar belakang masalah secara runtut, jelas dan tajam, maka peneliti harus mengkaitkan terhadap kajian teori yang luas dan terpadu mengenai teori-teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang terkait, dan merupakan syarat mutlak yang harus tergambarkan di latar belakang. Ini merupakan alasan lain mengapa penelahaan terhadap jurnal-jurnal hasil penelitian terdahulu yang terkait harus sejak awal dilakukan.
Di fihak lain latar belakang masalah dalam penelitian juga disajikan mengenai keadaan atau fakta aktual yang menarik perhatian penulis untuk diteliti sehingga dari uraian fakta-fakta actual yang terjadi bisa dilihat permasalahanya secara jelas. Dalam menyajikan data dalam bentuk table, angka persentase atau dalam bentuk narasi biasa. Fakta-fakta yang ditampilkan (dalam bentuk table atau angka persentase) sebaiknya mewakili komunitas atau kelompok populasi yang hendak diteliti untuk lebih menjelaskan permasalahan.
Jadi dalam latar belakang masalah ini, peneliti harus melakukan analisis masalah, sehingga permasalahan menjadi jelas. Melalui analisa masalah tersebut peneliti harus dapat menunjukkan dan membuktikan adanya suatu penyimpangan dan menuliskan mengapa masalah tersebut perlu diteliti.
D. Identifikasi Masalah
Masalah yang harus dipecahkan atau dijawab melalui penelitian selalu ada tersedia dan cukup banyak, tergantung peneliti dalam mengidentifikasikannya, memilihnya dan merumuskannya. Walaupun demikian agar seseorang ilmuwan mempunyai mata yang cukup jeli untuk menemukan masalah tersebut, dia harus cukup berlatih.
Identifikasi masalah pada umumnya mendeteksi, melacak, menjelaskan aspek permasalahan yang muncul dan berkaitan dari judul penelitian atau dengan masalah atau dengan variable yang akan diteliti. Hasil identifikasi masalah dapat diangkat sejumlah masalah yang saling keterkaitan satu dengan yang lainnya.
Apabila dalam latar belakang masalah penjelasannya sudah dikemukakan dengan lengkap dan jelas, maka akan memudahkan dalam proses identifikasi masalah. Identifikasi masalah merupakan proses merumuskan permasalahan-permasalahan yang akan diteliti. Untuk memudahkan dalam proses selanjutnya dan memudahkan pembaca memahami hasil penelitian, permasalahan yang muncul dirumuskan dalam bentuk pertanyaan tanpa tanda tanya.
Selanjutnya dalam bagian ini perlu dituliskan berbagai masalah yang ada pada objek yang diteliti. Semua masalah dalam objek baik yang akan diteliti maupun yang tidak akan diteliti sedapat mungkin dikemukakan. Untuk dapat mengidentifikasi masalah dengan baik maka peneliti perlu melakukan studi pendahuluan ke objek yang diteliti, melakukan observasi, dan wawancara ke berbagai sumber sehingga semua permasalahan dapat diungkapkan. Dari berbagai permasalahan yang telah diketahui tersebut, selanjutnya dikemukakan hubungan satu masalah dengan masalah lain. Masalah yang akan diteliti itu kedudukannya di mana di antara masalah yang akan diteliti. Masalah apa saja yang diduga berpengaruh positif dan negative terhadap masalah yang diteliti. Masalah tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk variable.
Dengan demikian dalam identifikasi masalah harus menggambarkan permasalahan yang ada dalam topik atau judul penelitian. Seluruh variable yang dilibatkan dalam penelitian harus dapat tergambar dengan jelas dalam identifikasi masalah. Identifikasi masalah yang akan diajukan tidak harus dibatasioleh ketentuan jumlah variable yang dilibatkan dalam penelitian maksudnya jika variable yang dilibatkan dalam penelitian adalah variable bebas da satu variable terikat, maka jumlah pernyataan masalahnya harus ada tiga. Pernyataan permasalahan bisa juga hanya satu, tetapi memuat seluruh permasalahan yang diteliti. Identifikasi masalah juga dapat menunjukan alat analisis apa yang akan dipakai serta kedalaman dan keluasan penelitian.
E. Pemilihan Masalah/ Batasan Masalah
Setelah masalah diidentifikasi, belum merupakan jaminan bahwa masalah tersebut layak dan sesuai untuk diteliti. Biasanya dalam usaha mengidentifikasi masalah atau menemukan masalah penelitian diketemukan lebih dari satu masalah . Dari masalah-masalah tersebut perlu dipilih salah satu, yang mana yang paling layak dan sesuai untuk diteliti. Jika yang diketemukan sekiranya hanya satu masalah, masalah tersebut juga harus dipertimbangkan layak dan tidaknya untuk diteliti. Pertimbangan untuk memilih atau menentukan apakah sesuatu masalah layak dan sesuai untuk diteliti, pada dasarnya dilakukan dari 2 arah yaitu :
1. Dari arah masalahnya
Untuk menentukan apakah sesuatu masalah layak untuk diteliti perlu dibuat pertimbangan-pertimbangan dari arah masalahnya atau dari sudut obyektif. Dari sudut obyektif ini, pertimbangan akar; dibuat atas dasar sejauh mana penelitian mengenai masalah yang bersangkutan itu akan memberi sumbangan kepada :
b. Pengembangan teori dalam bidang yang bersangkutan dengan dasar teoritis penelitiannya.
c. Pemecahan masalah-masalah praktis
Kiranya jelas bahwa kelayakan suatu masalah untuk diteliti itu sifatnya relative, tergantung kepada konteksnya. Sesuatu masalah yang layak untuk diteliti dalam sesuatu konteks tertentu, mungkin kurang layak kalau ditempatkan dalam konteks yang lain. Tidak ada kriteria untuk ini dan keputusan akan tergantung kepada ketajaman calon peneliti untuk melakukan evaluasi secara kritis, menyeluruh dan menjangkau ke depan.
Disamping hal-hal tersebut di atas perlu ditambahkan bahwa dari masalah itu hendaklah mungkin dilakukan pengumpulan data guna memecahkan masalah itu atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung di dalamnya. Kecuali itu masalah yang akan diteliti itu seyogyanya bukan merupakan pendirian mengenai etika dan moral.
2. Dari arah si calon peneliti
Dari segi subyektif, yaitu pertimbangan dari arah calon peneliti, perlu dipertimbangkan apakah masalah itu sesuai dengan calon peneliti. Sesuai atau tidaknya sesuatu masalah itu untuk diteliti terutama bergantung kepada apakah masalah tersebut manageable atau tidak oleh si calon peneliti.
Managability itu terutama dilihat dari lima segi yaitu :
biaya yang tersedia
waktu yang dapat digunakan
alat-alat dan perlengkapan yang tersedia
bekal kemampuan teoritis
penguasaan metode yang diperlukan
Setiap peneliti perlu menanyakan kepada diri sendiri apakah masalah yang akan diteliti itu sesuai dengan baginya dilihat dari kelima hal tersebut di atas. Jika tidak sebaiknya dipilih masalah lain, atau masalah itu dimodifikasi sehingga menjadi sesuai bagi dirinya.
F. Perumusan Masalah
Merumuskan masalah merupakan pekerjaan yang sulit bagi setiap peneliti. Hal ini dapat menolong mahasiswa keluar dari kesulitan merumuskan judul dari masalah adanya pengetahuan yang luas dan terpadu mengenai teori-teori dan hasil-hasil penelitian para ahli terdahulu dalam bidang-bidang yang terkait dengan masalah yang akan diteliti. Dalam rumusan dan analisis masalah sekaligus juga diidentifikasi variable-variabel yang dalam penelitian beserta definisi operasionalnya.
Bagaimanakah rumusan masalah yang baik ?
Pertama, perlu diingat bahwa masalah adalah titik tolak penelitian . Karena itu wajarlah bila kita merumuskannya dengan baik terlebih dahulu. Kedua, sebelum kita merumuskan masalah, terlebih dahulu kita harus menguraikan latar belakangnya. Tujuannya adalah agar masalah yang kita ketengahkan itu jelas. Masalah dikatakan baik jika :
(1). Dapat diteliti
Artinya masalah itu dapat dipecahkan melalui pengumpulan data dan pengolahan datanya.
(2).Kontribusinya terhadap penelitian ada
Yaitu yang ditemukan harus ada dan baru
(3). Pemecahannya baik bagi kita (peneliti)
Artinya sesuai dengan kemampuan meneliti kita, sumbernya ada dan sesuai dengan keterbatasan (limitasi) dalam waktu, biaya, daerah penelitian, generalisasi dll.
Tidak ada aturan umum mengenai cara merumuskan masalah itu , namun dapat disarankan hal-hal berikut ini :
(a) masalah hendaknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
(b) Rumusan itu hendaknya padat dan jelas
(c) Rumusan itu hendaknya memberi petunjuk tentang mungkinya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan ini.
Definisi operasional yang dirumuskan untuk setiap variable harus sampai melahirkan indicator-indikator dari setiap variable yang diteliti yang kemudian akan dijabarkan dalam instrument penelitian. Jadi setelah masalah yang akan diteliti itu ditentukan, misalnya variable apa saja yang akan diteliti, bagaimana hubungan antar variable dan agar masalah itu dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti itu perlu dirumuskan secara spesifik.
Berdasarkan uraian di atas, maka contoh rumusan masalah penelitian diuraikan sebagai berikut :
a. Permasalahan yang bersifat deskriptif yaitu permasalahan yang tidak membandingkan dan tidak menhubungkan dengan variable saja.
Contoh :
1) Seberapa tinggi motivasi kerja guru dan staf tata usaha di SMA Negeri 1 Pontianak ?
2) Bagaimana kualitas guru–guru mata pelajaran yang di ujikan nasional di SMA Negeri 1 Pontianak?
3) Bagaimana kualitas guru–guru mata pelajaran yang tidak di ujikan nasional di SMA Negeri 1 Pontianak?
b. Permasalahan bersifat asosiatif adalah permasalahan yang menghubungkan atau pengaruh antara dua variable atau lebih. Adapun menurut sifat hubungan terdiri dari tiga jenis yaitu :
1) Hubungan simetris
Ialah hubungan yang bersifat kebersamaan antara dua variable atau lebih.
Contoh :
Sejauh mana hubungan antara keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan OSIS dengan tingginya prestasi belajar ?
2) Hubungan sebab akibat (kausal)
Ialah hubungan yang bersifat mempengaruhi antara dua variable atu lebih
Contoh :
Seberapa besar hubungan keterampilan dan pengetahuan siswa terhadap hasil belajarnya di SMA Negeri 1 Pontianak ?
3) Hubungan interaktif
Ialah hubungan antara dua variable atau lebih yang bersifat saling mempengaruhi.
Contoh:
Sejauh mana hubungan antara sikap guru dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Pontianak ?
c. Permasalahan bersifat Komparatif adalah permasalahan yang menggambarkan perbedaan karakteristik dari dua variabel atau lebih
Contoh :
Bagaimana kinerja guru SMA Negeri 1 Pontianak dibandingkan dengan kinerja guru SMA N 3 Pontianak ?
G. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan keinginan-keinginan peneliti atas hasil penelitian dengan mengetangahkan indicator-indikator apa yang hendak dietemukan dalam penelitian, terutama yang berkaitan dengan variable-variabel penelitian. Rumusan tujuan penelitian menyajikan hasil yang ingin dicapai setelah penelitian selesai dilakukan. Tujuan penelitian mengungkapkan keinginan peneliti untuk memperoleh jawaban atas permasalahan penelitian yang diajukan. Oleh sebab itu, tujuan penelitian harus relevan dan konsisten dengan identifikasi masalah, rumusan masalah dan mencerminkan proses penelitian
Tujuan penelitian terdiri atas tujuan umum dan khusus . Tujuan umum menggambarkan secara singkat dalam satu kalimat apa yang ingin di capai melalui penelitian. Tujuan khusus dirumuskan dalam bentuk item-item atau butir-butir (misalnya 1,2,3 dan seterusnya) yang secara spesifik mengacu kepada pertanyaan-pertanyaan penelitian.
Tujuan penelitian disini tidak sama dengan tujuan yang ada di sampul, yang merupakan tujuan formal ( misalnya untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar) tetapi tujuan disini berkenaan dengan tujuan peneliti dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian berkaitan erat dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian ini jawabanya terletak pada kesimpulan penelitian.
H. Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan. Kalau tujuan penelitian dapat tercapai, dan rumusan masalah dapat terjawab searah dan akurat, maka sekarang kegunaannya apa dari penelitian tersebut.
Kegunaan penelitian adalah untuk menjelaskan tentang manfaat dari penelitian itu sendiri. Kegunaan hasil penelitian ada dua hal yaitu untuk :
(1) mengembangkan ilmu atau kegunaan teoritis
(2) kegunaan secara praktis, yaitu membantu, memecahkan dan mengantisipasi masalah yang ada pada objek yang diteliti.
DAFTAR PUSTAKA
Arief Furchon. 2005. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Madyo Eko Susilo. 2005. Penelitian Dalam Bidang Pendidikan, Jakarta: PMPTK
Riduwan. 2004. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: AlfaBeta
Ruseffendi. Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non- Eksakta Lainnya. Semarang : IKIP Semarang Press
Sumadi Suryabrata. 2000, Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Satutik Rahayu.2007. Masalah Penelitian. Surakarta. UNS: Tidak Diterbitkan
Arief Furchon. 2005. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Madyo Eko Susilo. 2005. Penelitian Dalam Bidang Pendidikan, Jakarta: PMPTK
Riduwan. 2004. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: AlfaBeta
Ruseffendi. Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non- Eksakta Lainnya. Semarang : IKIP Semarang Press
Sumadi Suryabrata. 2000, Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Satutik Rahayu.2007. Masalah Penelitian. Surakarta. UNS: Tidak Diterbitkan

1 komentar:
Hallo
Alhamdulilah sekarang sudah banyak penelitiannya. Aku ikut senang membacanya. selamat dan sukes selalu.
pak ... gabung dong di facebook biar rame kayak reuni S2 ... asyik
Posting Komentar